"Kalo malam tahun baru kan pulangnya lama. Macet. Namanya juga ini tradisi, pasti kita semua orang keluar bareng orang terdekat, sama keluarga, pacarnya. Kalo sudah punya istri pasti bawa istrinya. Kalau waktu di Tarakan nggak bawa, tapi sekarang ajak dia karena dekat di Jakarta," jelas Tria.
Bagi pria kelahiran 22 Juni ini tahun baru dalam perayaannya tidak terlalu sakral, dan hanya ikut-ikutan saja. "Sebetulnya tahun baru ga terlalu sakral. Kalau dibilang ikut-ikutan, ikut-ikutanlah. Perpindahan tahun buat kita angka aja" katanya.
Alasan mereka manggung lebih dikarenakan tidak adanya kegiatan pada saat malam tahun baru. Makanya mereka lebih memilih bekerja, "Tahun baru kalo nggak ada acara, bingung mau ke mana. Daripada gitar-gitaran ga jelas," tandasnya sambil tertawa. (kpl/aal/abs/rzm)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar